Wednesday, April 8, 2009

di mana kan ku temui..

Di mana kan ku temui
Penghujungnya resah ini
Seumpama ku menanti sejawapan rindu
Di mana kan ku temui
Oh sinaran yg hakiki
Untuk menjadi penyuluh
Jalan didepanku
Hingga akhir waktu

Tuesday, April 7, 2009

zainab r.a

Zainab radhiyallahu ‘anha binti Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Oktober 5, 2008 ·
Oleh : Al-Ustadz Ja’far Umar Thalib

Zainab Putri Rasulillah, Keteladannya Bersetia Kepada Suami

Tak lama setelah pernikahan Muhammad bin Abdillah Al-Hasyimi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dengan Khadijah bintu Khuwailid Az-Zuhri radliyallahu `anha, lahirlah anak pertama bagi pasangan berbahagia ini, seorang putri yang kemudian dinamakan Zainab. Tepatnya peristiwa kelahiran itu terjadi pada sepuluh tahun sebelum diangkatnya sang ayah menjadi Rasulullah (yakni utusan Allah). Ia lahir dalam keluarga yang dibangun oleh pasangan suami istri yang menjadi teladan kemuliaan di kalangan Quraisy, sehingga dalam dirinya mengalir darah kemuliaan ayah bundanya. Dia juga menyaksikan akhlaqul karimah keduanya dalam kehidupan rumah tangga dan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga tumbuhlah Zainab menjadi gadis kecil yang menarik parasnya serta menakjubkan akhlaqnya bagi keluarga terdekat dan keluarga jauh kalangan Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, bahkan bagi segenap Quraisy.
Diantara orang yang banyak menaruh perhatian kepada si gadis kecil Zainab, adalah seorang remaja bernama Abul Ash Laqith bin Ar-Rabi’ bin Abdis Syams bin Abdi Manaf bin Qushai Al-Qurasyi, yang ibunya bernama Halah bintu Khuwailid Az-Zuhri adik kandung Khadijah. Sedangkan dari pihak ayahnya, Abul Ash bertemu nasab dengan Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam pada Abdi Manaf bin Qushai. Remaja lajang ini kerap bertandang ke rumah bibinya, yaitu Khadijah bintu Khuwailid Az-Zuhri. Dan setiap berkunjung ke rumah sang bibi, iapun menyaksikan betapa perangai si gadis kecil yang menakjubkan. Sehingga suatu hari Abul Ash dengan keluarganya mendatangi rumah Muhammad bin Abdillah Al-Hasyimi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam untuk meminang Zainab bintu Muhammad Al-Hasyimi untuk diperistri oleh Abul Ash Laqith. Abul Ash sendiri adalah seorang remaja yang sangat mulia akhlaqnya di kalangan karib kerabat handai taulan. Maka dengan beberapa keistimewaan Abul Ash seperti ini, pinangannya pun segera diterima dengan senang hati oleh Muhammad bin Abdillah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam.
Pesta pernikahan dilaksanakan untuk pasangan muda belia Zainab bintu Muhammad Al-Hasyimi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dengan Abul Ash Laqith bin Ar-Rabi’ dari Bani Abdis Syams. Sehingga berkumpullah dalam pesta pernikahan itu Bani Hasyim, Bani Zuhrah, Bani Abdis Syams serta para tamu undangan lainnya. Zainab adalah putri Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam yang pertama kali menikah. Dan dalam kesempatan pernikahan tersebut ibunda Zainab, menyerahkan kado pernikahan berupa seperangkat kalung emas permata yang indah untuk menyenangkan putrinya sebagai kenang-kenangan dari ibunda tercinta. Dan berbahagialah pasangan suami istri ini dalam mengarungi kehidupan rumah tangga dengan ikatan cinta asmara.
RIAK-RIAK GELOMBANG KEHIDUPAN RUMA TANGGA
Setelah mereguk kebahagiaan rumah tangga, mulailah datang onak dan duri menghadang kebahagiaan itu. Di suatu hari Abul Ash, sang suami tercinta, berangkat menuju negeri Syam untuk berdagang mencari rizki di sana. Zainab tinggal di rumah mendampingi putra putrinya dengan kasih sayang seorang ibu. Di masa kepergian sang suami dengan kafilah dagangnya, datang berita mengejutkan bagi Zainab tentang Ayahandanya yang amat dia cintai itu. Muhammad bin Abdillah Al-Hasyimi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam telah diangkat oleh Allah menjadi utusan-Nya dan diperintah oleh-Nya untuk mengajak sekalian manusia kepada agama Allah, yaitu agama yang mengajarkan tauhidul ibadah (yakni mengesakan Allah dalam segala bentuk peribadatan) dan akhlaqul karimah (yakni perangai yang mulia). Ajaran Tauhidul Ibadah, bagi orang-orang Quraisy adalah ajaran yang sangat aneh dan amat bertentangan dengan kebiasaan mereka yang suka berbuat syirik itu. Banyak pula dari ajaran Islam yang diserukan oleh Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam yang menyelisihi kebiasaan orang Quraisy dan orang Arab secara keseluruhan bahkan bagi ummat manusia semuanya. Sehingga dengan sebab inilah meledak isyu pergunjingan di kalangan Quraisy dan orang-orang Arab di jazirah Arabiah tentang Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dalam tempo sekejap. Zainab pun mencari tahu tentang kebenaran isyu ini langsung dari ayah bundanya. Dan Zainab setelah mendapat penjelasan tentang kebenaran Kerasulan sang ayah, iapun langsung beriman kepada Islam tanpa harus menunggu kedatangan sang suami tercinta. Karena dia lebih cinta kepada kebenaran daripada kecintaannya kepada sang suami. Namun karena kecintaannya kepada suami, dia berharap kiranya sang suami mendapat hidayah dari Allah Ta’ala untuk beriman dengan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam.
Ketika Abul Ash datang dari perjalanannya, dalam suasana melepas rindu, Zainab memanfaatkan kesempatan itu untuk mendakwahi sang suami dan meyakinkannya agar mau memeluk agama Allah. Namun Zainab mendapati kenyataan pahit yang tidak pernah diperhitungkannya. Abul Ash amat keberatan untuk memeluk Islam. Alasannya sangat berkaitan dengan urusan harga diri atau gengsi kearaban. Abul Ash kuatir, bila dia memeluk Islam, nanti orang Quraisy akan mengatakan bahwa Abul Ash di bawah pengaruh istrinya dan bisa dikatakan karena takut kepada istri maka dia masuk Islam. Bagi orang Arab, penilaian demikian ini adalah kerendahan dan kehinaan. Namun karena Abul Ash yakin bahwa kebenaran Islam itu tidak bisa ditolak, dia mengizinkan Zainab untuk memeluk Islam, agama Allah yang dibawa oleh ayahandanya. Di samping juga karena memang Abul Ash amat mencintai Zainab, istrinya yang amat mengagumkan akhlaqnya.
Dengan tersebarnya Islam di kalangan orang Arab di Makkah dan sekitarnya, mulailah keresahan muncul di kalangan para tokoh Quraisy yang merasa terancam kedudukannya di kalangan bangsa Arab. Dan datanglah penentangan terhadap dakwah Islamiyah itu, terutama dari para pimpinan Quraisy. Celakanya yang paling menentang justru paman beliau sendiri yaitu Abu Lahab bin Abdul Mutthalib Al-Hasyimi. Sehingga karena itu, turunlah satu surat khusus dari Al-Qur’an yang menyatakan kutukan dan celaan Allah Ta’ala terhadap Abu Lahab dan istrinya. Turunnya surat Al-Lahab ini membuat marah Abu Lahab dan keluarganya sehingga semakin garang saja permusuhannya terhadap Rasulullah dan keluarganya shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Dalam pada itu, kedua putra Abu Lahab yang bernama Utbah dan Uthaibah telah menikahi kedua putri Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam yang bernama Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Maka Abu Lahab pun menyatakan kepada kedua putranya: “Kepalaku haram untuk mengenal kalian berdua bila kalian tidak menceraikan istri-istri kalian itu.” Maka kakak beradik Uthbah dan Uthaibah putra Abu Lahab itu, menceraikan kakak beradik Ruqayyah dan Ummu Kultsum putri Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam, sebelum kedua pasangan ini sempat saling bersentuhan sebagai layaknya suami istri. Bahkan Abu Lahab belum puas menghinakan kedua putri Rasulillah itu. Dia pun berusaha mendekati Abul Ash agar kiranya juga mau menceraikan Zainab untuk menghinakan putri-putri Rasulillah di hadapan Quraisy dan Arab secara keseluruhan.
Namun Abul Ash adalah seorang suami yang terpuji perangainya dan tidak mau ikut-ikutan dengan orang lain dalam mengingkari budi baik putri Rasulillah. Dia semakin sayang terhadap Zainab. Hal ini justru semakin menyulitkan Zainab dalam kaitannya dengan Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Karena di satu sisi dia sebagai istri harus tetap bersetia kepada suaminya, di sisi lain dia telah berbeda agama dengan suaminya. Yang masih meringankan posisi Zainab ialah, masih belum turunnya keputusan Allah yang melarang wanita Muslimah menjadi istri bagi pria yang beragama lain. Sehingga Zainab tetap dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam untuk menjalankan kewajiban istri kepada suami dengan sebaik-baiknya. Dan Abul Ash semakin kagum dengan Islam, karena Zainab semakin baik akhlaqnya setelah beragama Islam dan sikap Rasulullah sebagai mertuanya tidak berubah kebaikan budi pekerti beliau terhadap sang menantu, bahkan lebih menakjubkan. Karena itu Abul Ash tidak mau ikut-ikutan dengan keumuman Quraisy dalam memusuhi Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam.
HIJRAH KE MADINAH
Setelah sekian belas tahun berlangsung rumah tangga Zainab dengan Abul Ash dengan suka dukanya, pasangan suami istri ini dianugerahi oleh Allah Ta’ala seorang putri yang diberi nama Umamah dan seorang putra yang diberi nama Ali. Permusuhan para tokoh Quraisy terhadap Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dan terhadap dakwah yang dibawa beliau tambah keras. Sehingga semakin banyak Ummat Islam yang dianiaya oleh kalangan musyrikin Quraisy karena masuk Islam. Dan Abul Ash tetap melindungi istrinya dari segala gangguan dan tindak permusuhan mereka. sehingga akhirnya datanglah perintah dari langit agar Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dan segenap kaum Muslimin berhijrah ke Al-Madinah. Karena Allah Ta’ala telah memilih kota Al-Madinah dengan Hikmah-Nya yang Maha Sempurna sebagai markas kekuatan penyebaran Islam di dunia. Dengan keputusan Hijrah Nabi dan kaum Muslimin ke Al-Madinah ini, Zainab semakin terkucil dari kaum Muslimin. Karena dia tidak bisa ikut ayahnya hijrah ke Al-Madinah berhubung statusnya masih sebagai istri Abul Ash yang musyrik. Ini tentunya beban mental yang luar biasa bagi seorang wanita. Namun kesetiaannya kepada suami tidak memungkinkannya untuk berangkat hijrah ke Al-Madinah tanpa izin dari sang suami. Hidup penuh kegersangan dan keterasingan dijalani oleh Zainab dengan kesabaran dan terus berdoa kepada Allah Ta’ala, kiranya Allah Ta’ala menunjuki suaminya tercinta kepada Islam dan setelah itu dapat mengajak sang istri untuk berangkat hijrah ke Al-Madinah.
Permusuhan para tokoh musyrikin Quraisy terhadap Islam yang telah bermarkas dakwah di Al-Madinah semakin keras. Mereka semakin gigih memobilisasi suku-suku Arab di jazirah Arabiah untuk memusuhi Islam. Puncaknya adalah meletuslah peristiwa perang Badr antara pasukan Islam yang dipimpin oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam, berhadapan dengan pasukan musyrikin Quraisy yang dipimpin oleh Abu Jahl dari Bani Abdi Syams. Maka karena Abul Ash dari Bani Abdi Syams, maka ia pun ikut pasukan musyrikin Quraisy yang dipimpin pamannya. Dalam pertempuran ini, Allah Ta’ala memenangkan pasukan Islam dengan kemenangan yang telak atas pasukan kafir Quraisy. Padahal kekuatan pasukan Islam dari sisi personel, logistik dan persenjataan, hanya sepertiga dari kekuatan musyrikin. Abu Jahal dan banyak tokoh musyrikin Quraisy, terbunuh dalam pertempuran itu. Orang-orang Quraisy mendapat pukulan dahsyat dari pasukan Islam yang dipimpin anak Quraisy yang paling mulia, yaitu Muhammad bin Abdillah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim Al-Qurasyi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Lebih terpukul lagi, ketika beberapa puluh orang-orang kafir Quraisy ditawan di Madinah oleh pasukan Islam. Dan di antara orang-orang yang ditawan itu adalah Abul Ash, sang menantu Rasulillah. Juga ikut ditawan pasukan Islam, Abbas bin Abdul Mutthalib paman Rasulillah.
Dari permusyawaratan yang diadakan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dengan para Shahabat beliau, diputuskanlah bahwa pembebasan semua tawanan itu harus dengan tebusan dari keluarga masing-masing. Maka berdatanganlah utusan keluarga-keluarga para tawanan itu dari Makkah ke Madinah untuk menebus anggota keluarganya. Di antara rombongan utusan yang datang dari Makkah itu, terdapat pula utusan dari keluarga Bani Abdis Syams untuk membebaskan Abul Ash. Utusan itu membawa kalung emas milik Zainab putri Rasulullillah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam untuk membayar tebusan bagi pembebasan suaminya. Dan ketika apa yang dibawa Bani Abdus Syams itu dilaporkan kepada Rasulillah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam, beliau tertegun melihat kalung emas itu. Benda ini membangkitkan kenangan manis beliau dengan ibunya Zainab yang telah meninggal, yaitu Khadijah bintu Khuwailid istri Rasulillah yang paling dicintai dan dimuliakan olehnya. Karena kalung itu adalah hadiah perkawinan dari Khadijah untuk putrinya ketika sang buah hati menikah dengan Abul Ash. Tentu Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam amat terharu melihat betapa putrinya yang Mu’minah, telah menunjukkan kesetiaan dan kecintaannya kepada sang suami meskipun masih musyrik. Maka Rasul pun menawarkan kepada para Shahabat beliau tentang pembebasan Abul Ash ini sebagai berikut: “Aku senang kalau kalian melepaskan Abul Ash agar kembali ke Makkah tanpa tebusan. Kembalikan kalung itu kepada keluarga Bani Abdis Syams agar dikembalikan ke putriku. Tetapi bila kalian tetap menuntut tebusan pembebasannya, maka kalung itu menjadi fai’ (yakni harta rampasan dari orang kafir yang telah ditaklukkan).” Maka para Shahabat pun menyatakan: “Bahkan kami menghendaki untuk membebaskannya tanpa tebusan dan mengembalikan kalung itu kepada pemiliknya wahai Rasulallah.” Dengan jawaban demikian, tentu Beliau amat gembira. Lebih-lebih lagi yang paling gembira adalah Abul Ash dan keluarganya. Dalam suasana kegembiraan itulah Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam meminta kepada Abul Ash untuk mengizinkan Zainab berhijrah dari Makkah ke Al-Madinah. Dan Abul Ash pun berjanji sesampainya di Makkah akan melepaskan Zainab untuk berangkat hijrah ke Al-Madinah.
Sesampainya Abul Ash di Makkah dengan selamat, dia disambut dengan suka cita oleh karib kerabat handai taulan. Orang yang paling bahagia menyambut kedatangan Abul Ash, adalah istri tercinta yang sangat setia kepada Abul Ash. Zainab bintu Rasulillah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam menyambut sang suami dengan muka berseri-seri penuh kehangatan karena kerinduan yang tak tertahankan. Namun sang suami tetap murung meskipun orang-orang di sekitarnya bersuka cita menyambutnya. Tanda kemurungan di wajahnya menimbulkan pertanyaan penuh keheranan dalam diri Zainab khususnya. Ia tak tahan lagi menyimpan keheranan itu, sehingga dalam pertemuan empat mata dengan sang suami, ditanyakanlah kepadanya. Maka sang suamipun dengan berat hati menjelaskan kepada Zainab tentang kegundahannya. “Engkau harus berpisah denganku demi janjiku kepada ayahmu. Engkau harus berangkat menuju Yatsrib (nama kota Al Madinah sebelum Islam) untuk hidup di sana bersama ayahmu.” Mendengar penjelasan sang suami, Zainab tertegun dan tak mampu berucap sepatah katapun. Dia bingung antara kesedihannya harus berpisah dengan suami tercinta dan kegembiraan karena mendapat kesempatan berhijrah untuk bergabung dengan sang ayah yang jauh lebih dia cintai daripada suaminya. Keimanannya terus-menerus memanggil dia untuk berhijrah dari kota Al-Makkah Al-Mukarramah menuju kota Al-Madinah An-Nabawiyah.
Zainab tak panjang pikir lagi demi mendengar izin dari sang suami, diapun segera berkemas-kemas untuk membawa kedua putra putrinya berangkat hijrah ke Al-Madinah. Sementara itu Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam mengirim Zaid bin Haritsah dan seorang lagi dari kalangan Anshar untuk mengawal Zainab dan kedua putra putrinya dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah. Ketika persiapan berangkat telah dianggap selesai, saudara kandung sang suami yaitu Kinanah bin Ar-Rabi’ mempersilakan Zainab menaiki ontanya yang telah dipasang pada punggung onta itu tenda yang menandakan bahwa perempuan yang menungganginya akan menempuh perjalanan jauh. Waktu itu Zainab dalam keadaan hamil anak ketiga. Dan Kinanah bin Rabi’ ditugasi mengantar Zainab dan kedua putra putrinya untuk keluar dari kota Makkah sampai ketemu dengan Zaid bin Haritsah. Kinanah mengawal dan menuntun onta yang ditumpangi Zainab dan putra putrinya. Ia bersenjatakan busur panah dan anak panahnya dan mengajak keluar Zainab di siang hari yang terik. Kepergian Zainab sempat dilihat oleh beberapa orang dari kalangan musyrikin Quraisy. Sehingga berlarianlah orang untuk mengejar rombongan Zainab. Dan belum sampai Zainab keluar kota, dua orang tokoh pemuda Quraisy yang bernama Habbar bin Al-Aswad bin Al-Mutthalib bin Asad bin Abdul Uzza dan Nafi’ bin Abdi Qais Al-Fihri, berhasil mengejar rombongan itu. Sehingga keduanya langsung mengancam Zainab dengan tombak yang hendak dilamparkan ke arahnya. Kinanah pengawal Zainab segera memasang anak panahnya pada busurnya siap untuk dilucurkan ke arah kedua pemuda Quraisy itu. Sehingga Zainab mengalami ketegangan yang luar biasa dan akibatnya gugurlah janin yang ada di kandungannya. Zainab mengalami pendarahan yang dahsyat dan sangat lemas karenanya. Di saat yang demikian datanglah Abu Sufyan bersama rombongan para tokoh-tokoh Quraisy dan langsung berteriak kepada Kinanah: “Wahai lelaki, tahanlah anak panahmu agar kami dapat berbicara denganmu.” Maka Kinanahpun menurunkan anak panah dari busurnya. Abu Sufyanpun mendekat kepadanya sembari menasehatinya: “Engkau tidak benar dengan tindakanmu ini. Karena engkau keluar dari Makkah dengan wanita ini di hadapan orang-orang dengan terang-terangan. Padahal engkau tahu bagaimana musibah dan malapetaka yang barusan menimpa kita dan pukulan yang dihantamkan kepada kita oleh Muhammad. Sehingga orangpun akan merasa dengan keluarmu terang-terangan seperti ini membawa putri Muhammad untuk diantarkan kepadanya, adalah sebagai bukti kelemahan dan kehinaan kita orang Quraisy di hadapan Muhammad sebagai akibat musibah kekalahan perang yang baru saja menimpa kita. Demi umurku, sungguh kita tidak mempunyai kepentingan apa-apa untuk menahannya dari keinginannya berangkat menemui bapaknya. Dan sama sekali kita tidak berniat untuk membalaskan kemarahan kita kepada bapaknya dengan menyakiti putrinya. Akan tetapi pulanglah kembali kerumahmu di siang hari ini dengan wanita itu. Sehingga bila telah reda suara-suara kemarahan orang terhadap peristiwa ini dan orang Quraisypun merasa puas karena telah berhasil memaksa putri Muhammad untuk kembali ke Makkah. Maka silakan di saat demikian, engkau berangkatkan wanita itu dengan secara tersembunyi dan antarkan dia ke tempat ayahnya.” Mendengar nasehat ini, Kinanahpun segera membawa kembali ke Makkah, Zainab dan kedua putrinya. Dan beberapa hari setelah itu ketika orang terlelap dalam tidurnya, Kinanah membawa Zainab dan kedua putra putrinya keluar dari kota Makkah dan mengantarkannya dengan rahasia untuk menemui Zaid bin Haritsah dan seorang dari Anshar di luar kota Makkah yang telah menantinya sejak beberapa hari sebelumnya di suatu tempat yang bernama Wadi Ya’jaj. Dan dari tempat itu Zainab dan kedua putrinya diantarkan ke Al-Madinah oleh rombongan Zaid bin Haritsah. Sehingga sampailah Zainab ke pangkuan Ayah tercinta dengan membawa berbagai kepiluan yang dirasakannya demi menjalankan kewajiban Hijrah di jalan Allah dan Rasul-Nya.
BERKUMPUL KEMBALI DENGAN SUAMI TERCINTA
Kini Zainab telah berkumpul kembali dengan ayah yang sangat dicintainya di kota Al Madinah. Namun harapan di hati Zainab sebagai istri yang setia terhadap suaminya, tetap saja diadukan kepada Allah Ta’ala dalam doa yang terus menerus dipanjatkan kepada-Nya, kiranya sang suami dianugerahi petunjuk oleh-Nya kepada Islam dan kemudian menyusul istri dan mertuanya berhijrah ke Al-Madinah. Zainab tak pernah berputus asa mendoakan Abul Ash untuk itu. Ia terus meratap dan menangis kepada Allah meminta belas kasih-Nya bagi sang suami tercinta. Hari-hari penantian demikian panjang bagi Zainab, dan dia memang wanita Mu’minah yang amat yakin dengan janji pertolongan Allah terhadap hamba-Nya yang terus meminta kepada-Nya. Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam menempatkan Zainab dan kedua putrinya di rumah tersendiri agar lebih leluasa membina kedua putra putrinya. Si kecil Ali dan Umamah menjadi pelipur lara bagi ibu yang terus saja merindukan kedatangan kekasihnya.
Di suatu hari kaum Muslimin diperintah oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam untuk menghadang kafilah dagang kaum musyrikin Quraisy. Saat itu tertangkaplah satu kafilah dagang yang kebetulan lewat. Kalangan musyrikin Quraisy yang ada dalam kafilah itu berhasil melarikan diri sambil meninggalkan segenap barang dagangannya. Maka kaum Muslimin pun membawa harta rampasan itu ke hadapan Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Dan di keheningan malam yang kelam menjelang terbitnya fajar, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu rumah Zainab. Hati Zainab agak berdebar mendengar ketukan yang sangat dikenalnya itu. Zainab meyakinkan dugaannya, gerangan siapa yang mengetuk itu. Dari balik pintu ada jawaban: “Aku Abul Ash bin Ar-Rabi’ ayahnya Ali dan Umamah.” Zainab amat terkejut mendengar jawaban itu dan tanpa berpikir panjang lagi segera diapun membukakan pintu bagi orang yang dikasihinya itu. Abul Ash dipersilakan masuk dan pintu segera ditutup. Diceritakanlah oleh Abul Ash kepada Zainab bahwa dia datang ke rumah ini dengan sangat tersembunyi dan hati-hati. Karena Abul Ash melarikan diri dari kejaran kaum Muslimin yang menghadang kafilah dagangnya. Abul Ash berusaha meyakinkan Zainab bahwa barang dagangan kafilahnya yang dirampas kaum Muslimin itu adalah titipan orang-orang Quraisy di Makkah dan dia harus mengembalikannya. Karena itu dia memohon dengan sangat kepada Zainab untuk menyatakan perlindungan hukum bagi Abul Ash dan melobi ayahnya untuk mengembalikan barang rampasan itu. Maka dengan besarnya harapan Zainab agar kekakuan hati Abul Ash untuk menolak ajakan masuk Islam kiranya dapat ditaklukkan dengan akhlaq yang mulia, Zainab langsung keluar rumah dalam suasana kaum Muslimin sedang bersiap-siap menunaikan shalat subuh berjamaah dengan Rasulillah di masjid. Di saat demikian itu Zainab berteriak sejadi-jadinya menyatakan perlindungannya bagi Abul Ash. Teriakan itu didengar oleh banyak kaum Muslimin dan juga didengar oleh Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam. Dan setelah beliau memimpin salat shubuh di masjid beliau, langsung saja beliau bertanya kepada segenap jamaah: “Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?” Para jamaah pun menjawab: “Ya, kami mendengar apa yang anda dengar.” Maka Rasulullah pun langsung berdiri dan keluar masjid menuju ke rumah Zainab putrinya. Beliau memperingatkan putrinya untuk jangan terlalu dekat dengan Abul Ash karena dia belum masuk Islam. Dan Zainab meminta kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam untuk memerintahkan kepada kaum Muslimin guna mengembalikan seluruh harta yang dirampas dari kafilah dagangnya Abul Ash.
Beliau sangat iba demi melihat permintaan Zainab yang sangat memelas itu. Karena beliau sangat tahu betapa putrinya ini sangat mencintai Abul Ash dan juga beliau mengenal betapa akhlaq Abul Ash yang mulia dan terhormat meskipun dia belum jua mau memeluk Islam. Beliau adalah orang yang selalu mengingat kebaikan orang meskipun orang itu kafir. Ketika Abu Lahab yang notabene adalah paman beliau sendiri memaksa putra-putranya menceraikan putri-putri Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dengan penuh kehinaan, Abul Ash justru sangat memuliakan Zainab dan melindunginya sebagai istri yang amat dicintainya. Ketika Abul Ash dibebaskan dari status tawanan perang Badr tanpa tebusan apapun, dia berjanji kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam untuk mengijinkan Zainab berangkat hijrah ke Al-Madinah dan membantunya untuk meninggalkan kota Makkah. Dan Abul Ash memenuhi janjinya sehingga Zainab akhirnya dapat menjalankan hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya dengan sempurna. Semua kebaikan Abul Ash ini sangat dikenang oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Sehingga beliaupun meluluskan permintaan putri beliau yang amat dicintainya itu. Namun beliau sangat kuat berpegang teguh dengan syari’at Allah, sehingga untuk meluluskan permintaan putrinya itu beliau mengajak musyawarah para Shahabat beliau dengan menyatakan kepada mereka: “Harta kafilah dagang Abul Ash telah kalian rampas dengan sah. Namun bila kalian mau, kalian kembalikan saja seluruh harta itu kepadanya dan ini yang aku senangi. Akan tetapi bila kalian tidak mau mengembalikannya, jadilah harta itu sebagai fai’ yang Allah berikan bagi kalian.” Mendengar omongan beliau ini, kaum Muslimin dengan aklamasi menyatakan pilihannya untuk mengembalikan semua harta itu kepada Abul Ash dengan penuh keikhlasan. Dan Abul Ash menerima pengembalian semua harta itu dengan suka cita.
Abul Ash bergegas membawa harta kafilah dagangnya kembali ke Makkah dan sesampainya di Makkah dia menunaikan segenap harta itu kepada masing-masing pemiliknya dengan sempurna. Dan setelah itu Abul Ash bertanya kepada mereka: “Apakah aku telah menunaikan dengan sempurna seluruh harta milik kalian yang kalian titipkan kepadaku?” Merekapun serentak menjawab: “Bahkan engkau telah menunaikan dengan sempurna seluruh apa yang kami titipkan kepadamu.” Dengan jawaban mereka yang demikian itu Abul Ash amat lega, karena gengsi dan kehormatannya telah diselamatkan oleh Muhammad bin Abdillah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Abul Ash adalah orang yang sangat gigih menjunjung kehormatan dirinya dengan akhlaq yang mulia. Dan hal ini telah diakui oleh Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Karena itu Abul Ash sangat luluh hatinya dengan sikap yang mulia dan terhormat dari Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam serta amat menghargai kehormatan orang meskipun belum masuk Islam. Akhlaq yang mulia inilah yang meluluhkan kekerasan hati Abul Ash untuk kemudian merasakan dan melihat kebenaran Islam. Ia tidak punya pilihan lain, kecuali mengikuti suara hati kecilnya untuk mengingkrarkan dua kalimat Syahadat. Abul Ash menegaskan di hadapan para tokoh-tokoh Quraisy: “Ketahuilah, sesungguhnya aku ingin menyatakan masuk Islam ketika aku masih di Madinah. Tetapi karena aku kuatir kalian menganggap bahwa aku masuk Islam karena ingin memakan harta kalian yang ada padaku, maka aku menundanya sampai aku telah mengembalikan segenap harta kalian dengan sempurna. Dan sekarang ketauhilah oleh kalian, bahwa aku telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Allah dan aku bersaksi pula bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah yang membawa kebenaran. Aku setelah ini akan hijrah ke Madinah untuk bergabung dengan saudara-saudaraku Kaum Muslimin di sana.” Para tokoh musyrikin Quraisy hanya tertegun lemas mendengar pernyataan Abul Ash dan mereka tak mampu berbuat apa-apa ketika melihat Abul Ash terang-terangan di hadapan mereka berangkat menuju kota Al-Madinah meninggalkan kota Al-Makkah.
SUKA CITA MENYAMBUT SUAMI YANG TERCINTA
Berita masuk Islamnya Abul Ash telah sampai ke Al-Madinah, meskipun dia masih di perjalanan. Para kafilah yang mendahului keberangkatan Abul Ash dari Makkah telah menyampaikan berita penting ini kepada para penggembala kambing ketika kafilah itu melewati mereka menuju negeri Syam. Dan para penggembala itu menyampaikannya kepada kaum Muslimin di Al-Madinah. Tentu kaum Muslimn amat gembira dengan berita ini, karena mereka tahu betapa Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam menghormati Abul Ash dan lebih-lebih lagi putri Rasulullah sangat mencintai Abul Ash dan merindukannya untuk datang ke Madinah sebagai Muhajir di jalan Allah. Berita ini juga telah sampai ke telinga Zainab dan diapun terhenyak dari segala lamunan kerinduannya. Dia dalam harap dan cemas, kiranya Abul Ash segera sampai di Madinah dengan selamat dan sejahtera. Yang berarti impian kerinduannya akan segera terwujud. Hari demi hari dia nantikan, rasanya di saat demikian masa sehari itu berjalan sangat lama. Dia terus memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala untuk Melindungi Abul Ash dari segala mara bahaya dalam perjalanannya dari Makkah ke Madinah. Dia bersyukur kepada Allah yang telah menunjuki Abul Ash untuk masuk Islam dengan penuh kemuliaan. Dan akhirnya Abul Ash sampai dengan selamat di kota Madinah. Kaum Muslimin menyambutnya dengan suka cita dan langsung mengantarkannya ke Masjid untuk menemui Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Kaum Muslimin menyaksikan, betapa berseri-serinya wajah Rasulullh shallallahu `alaihi wa alihi wasallam ketika menyambut Abul Ash dalam keadaan telah beriman dan berhijrah. Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam langsung menggandeng Abul Ash ke rumah Zainab dan mempertemukannya dengannya sebagai suami istri tanpa memperbaharui akad nikahnya. Allah Ta’ala Maha Tahu, saat kapan yang paling baik untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Karena Dia berbuat selalu dengan Hikmah-Nya yang Maha Sempurna. Baru sekarang Zainab meneguk bahagia setelah kurang lebih empat belas tahun berdoa dan berdoa mengharap kepada Allah Ta’ala untuk menunjuki Abul Ash masuk Islam. Baru sekarang Zainab merasakan bahagia berkumpul dengan suami dalam keadaan seiman. Allah Maha Sempurna Hikmah-Nya, Dia tidak segera mengabulkan doa Zainab sehingga karenanya tampak nyata betapa kuatnya kesabaran hamba-Nya ini dalam menanti pertolongan Allah dan betapa mulianya dia dalam kesetiaan yang dipersembahkan kepada suaminya. Lebih dari itu ditunjukkan pula betapa mulianya akhlaq Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dalam membalas budi baik orang meskipun dari orang yang belum masuk Islam. Bahkan lebih dari itu semua, apa yang Allah taqdirkan dengan kejadian ini semakin menunjukkan betapa Islam itu adalah agama rahmah dan mengajarkan sikap pemaaf dan penyayang dan tidak gampang menghukumi dengan kebengisan dan amat mempertimbangkan keadilan serta hak orang.
MENINGGAL DUNIA
Sejak dia keguguran di saat menjelang keluar kota Makkah dalam rangka hijrah ke Madinah, Zainab terus menerus mengalami pendarahan pada rahimnya. Dan akhirnya setelah dia puas dalam berumah tangga di kota Madinah dengan suami tercinta dan dua anak yang dihasilkan dari cinta mereka berdua, penyakit Zainab semakin serius sehingga ia mengalami pendarahan yang semakin hebat. Akhirnya pada tahun 8 Hijriah, Allah Ta’ala memanggil Zainab ke alam barzakh. Dia meninggal dunia dengan keridlaan dan cinta suaminya kepadanya. Dia pergi ke alam kubur dengan diiringi doa yang tulus dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam serta cucuran air mata kesedihan. Kaum Muslimin ikut bersedih melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam bersedih. Abul Ash ditinggal pergi dengan seribu satu kenangan suka duka kesetiaan dan cinta selama berumah tangga dengan Zainab. Kedua putra putrinya melepas ibunda dengan kesedihan pula. Dan ini memang taqdir Allah yang tidak bisa ditolak oleh siapapun dari makhluk Allah Ta’ala. Selamat jalan Zainab, teladanmu sebagai Mu’minah, Muhajirah, dan wanita yang sangat setia kepada suaminya terus dikenang oleh segenap kaum Mu’minin. Perjuanganmu sungguh tak sia-sia. Semoga putri-putri Muslimat dan Mu’minat meneladani keimanan, kesabaran, dan kesetiaanmu. Amin.
Sumber : http://www.alghuroba.org

Monday, April 6, 2009

Kudamba RedhaMu

Bagaikan hausnya.. bumi gersang
Yang kering lantaran tidak disirami hujan
Begitu sepinya dan rindu hatiku
Bila cintamu tidak bersemi
Berjalan aku.. bagai kesesatan
Di tanah tuhan.. diriku ditinggalkan
Tiada teman untukku mengadukan
Resah hidupku... ditimpa sesalan
Aku dambakan.. dambakan cinta
Cinta sejati yang kekal selamanya
Biarpun pahit.. perjalanan meraihnya
Demi redhamu.. kuharungi jua
Kerana cinta lahir dari sanubari
Biarpun perit menuju cintamu
Namun sedikit pun tidak menggoyah tekadku
Biar diracun dunia
Tidakku gentar tempuhnya...
Ya Allah tidakku sedari
Selama ini cintamu tak pernah menyepi
Rahmat kasih sayangmu yang tiada bertepi
Setiap hambamu tetap kau sayangi
Biarpun banyak dosa yang menghimpit diri ini
Janji pada hambamu tak pernah kau mungkiri
Maafkanlah... redhailah....
Aku bersaksi bahawa kau sesungguhnya
Tuhan yang agung pencipta segalanya
Tempatku bermohon dan berlindung
Dari kehinaan dan kemusnahan

kerana dosa itu...

dosa itu menggetarkan hatiku...
dosa itu membelenggu duniaku...
dosa itu mengekori langkahku..
daosa itu menggugurkan air mataku...

akut takut...
aku gerun...
aku khuatir..
aku sedih...

namun masih ku ulangi..
namun aku tidak serik..
namun aku masih leka...
namun aku tetap hanyut...

ampunkan aku Ya Tuhan..
maafkan aku Ya Tuhan...
bantulah aku Ya Tuhan..
kasihilah aku Ya tuhan...

obsess dengan lagu...

Aku dambakan.. dambakan cinta
Cinta sejati yang kekal selamanya
Biarpun pahit.. perjalanan meraihnya
Demi redhamu.. kuharungi jua

asyikin dgn lagu...huhu..sesuai le kot ngan namaku..ASYIKin...mmg aku asyik dgn lagu...cuma aku perasan aku ni obsess dgn hanya sebuah lagu...berkurun aku dgn lagu tue..sebelum berhijrah ke lagu yang lain..mungkin sbb tue le aku lambat sikit update ngan lagu2 ni..maklum le..permintaan yang tidak mampu mengejar pengeluaran lagu2 yang makin berlambak..
tp syukur jugak sbb minatku ni hanya pada lagu2 yang ade nilai...ade pengajaran yang blh diambil...at least blh le aku belajar ngan lagu..jadi tazkiah..tazkirah buat diriku yang sering lupe...
hm..tarbiyah melalui lagu...betul x?sebenarnya setiap detik dalam hidup seorang pejuang adalah tarbiyah...betul le kan..peringatan bagi yang nak mengambil pengajaran..yang menggunakan akal..so..gunakanlah akal untuk mengenal pencipta kita...hehe...ber'ceramah' lak aku ni..
tp x pe le kan..sekadar peringatan buat diriku yang sentiasa tenggelam dalam dosa..aduh..bayaknya dosaku..namun x pernah ku serik...malah ku ulangi..ampun Ya Allah...

perlukah aku bersedih?

hm..aku pelik bilamana aku nak pinjam sebuah buku...empunya buku kata ashikin x yah baca lagi le..nanti ashikin sedih..hm..pelik kan?ni yang buat aku jadi nak baca buku tu....
so..aku x hirau..aku baca juga..tapi x semua le...nak exam wei..mana sempat nak baca semua isi kandungannya...tp..buku tue best ar...x sedih pun..siap gelak2 lagi bila baca buku tue...
hm..buku ape ye?tajuk dia pemilik cintaku selepas Allah dan rasul...
buku ni dia mengisahkan kehidupan keluarga muslim...cinta yang indah antara suami isteri..bermula dari sebuah pertunangn yang berkat...dihiasi dengan kasih sayang yang membahagiakan..huhu...tp nape dia kata aku akan sedih lak?
hm..aku ni mmg le ade le sikit negatif thought..hehe..mungkin aku ni.....

Ya Allah tidakku sedari
Selama ini cintamu tak pernah menyepi
Rahmat kasih sayangmu yang tiada bertepi
Setiap hambamu tetap kau sayangi
Biarpun banyak dosa yang menghimpit diri ini
Janji pada hambamu tak pernah kau mungkiri
Maafkanlah... redhailah....

Sunday, April 5, 2009

aku hanyalah seorang wanita

Mana mungkin lahirnya bayangan yang lurus elok
Jika datangnya dari kayu yang bengkok
hm..payah nak citer..tp bila kita ditanya...nak suami yang mcm mana..mesti kita kata nak yang soleh..yang berjurus le wei..huhu..aku pun manusia yang gitu jugak..x leh lari dr mengimpikan suami yg gitu..huhu..cakap pasal kawin lak syik...huhu..
hm..jgn le diimpikan sebegitu duhai syik sayang..bukan salah..tp jadi dulu isteri yang solehah..sebelum mengimpikan suami yang soleh...
aku harap sgt seorg suami yang blh perbetulkan si tulang rusuk yang bengkok ni..tapi ape salahnya aku perbetulkan diri ini..supaya suamiku nanti blh le berjuang dlm ummah tanpa risau isteri yang bengkok..huhu..
kesimpulannya..jadilah isteri solehah kepada suami yang soleh...hehe..

KMPP hanyalah sebuah kenangan..

sekarang ni musim study week.. aku mmg le study jugak..tp susah le nak fokus..asyik mencapah je minda ni..baru je buka buku...baca sikit..dah berubah arah..hm..teringat lak masa kat kmpp dulu..lama dulu..bersama sahabat2...saat tue aku baru kenal erti sahabat...erti manisnya ukhuwwah..
huhu...aku ni mmg sensitif kot...leh lak aku nangis seminggu bila mula2 masuk usm..sbb aku ingat sgt kat diorang...terdengar2 suara diorang...nampak je org yg mcm diorang...aku nangis..
hm...duk ngan diorang..even ade yang berlainan kos tp leh lak kami study sama2..berkampung beb...huhu..kenangan yang sangat manis...even dah 5 tahun kat sini...susah nak lupe kenangan dulu...sahabat..aku rindu kalian...
hm..tp manusia ni gini le...ape yg ade x mau dihargai..maafkan aku duhai sahabat2...sahabat2 kat usm pun aku syg jugak...

Monday, March 30, 2009

di sebalik kepayahan..di situlah ada kekuatan..

saat exam menjelang mmg stress...seringkali aku tersion..huhu..alih2 aku menangis..ape ye yang aku takut sebenarnya?hm..takutkah aku untuk gagal...?ah..bukan aku x tahu...gagal..berjaya bukan urusanku..tapi urusanMu ya Allah...ampuni aku lantaran turut mencampuri urusanMu...
Ya allah..ku pinta padaMU...yang terbaik untukku di sisiMu...hm...sungguh Ya Allah..aku impikan kejayaan sebagai seorang doktor...hm...apakah ketentuan itu untukku..?Ya Allah..Kau bantulah aku untuk menghadapi ujian ini...kadang2 terasa begitu berat bagiku...lantaran kurangnya syukur..redha dan tawakkal padaMu..tetapkanlah hatiku pada perjuanganMu..ampunkanlah aku Ya Allah...

Mimpi Yang Indah

Telah ku lalui jalan berduri
Sejuta harapan terus ku pertahankan
Bukan mudah menggapai bintang
Bersilih dugaan mendatang
Di sebalik kepayahan
Di situlah kekuatan
Tekad hati azimat di perjalanan
Mengejar impian
Pabila laluan seakan sukar
Bagai tak terdaya untuk terus bertahan
Namun kasihMu menyedarkan
Aku tak pernah sendirian
Di sebalik kepayahan
Di situlah ada kekuatan
Tekad hati azimat di perjalanan
Tinggi langit mimpi ini
Tak ku ragu untuk membuktikan
Indah bintang yang terang bukan khayalan
Tetapi kenyataan
Akan kau saksikan kesulitan ini
pasti berganti kebahagiaan
Telah pun kau dengar kisahku ini
Pernahkah cuba kau mengerti

Saturday, January 3, 2009

antara dua cinta

hm..susah sebenarnya nak buat keputusan ni..tp apabila bertembung dua cinta..aku rela cinta insani ini ku tinggalkan..aku tak sanggup buang cinta Ilahi...dah lama aku jauh sangat dari Allah..hanyut dalam cinta yang penuh kealpaan..biarlah kali ni aku kehilangan dia yang aku sayang..x pe..aku rela...yang penting aku tidak selamanya berada dalam murka Allah..yup..yang penting dia juga tidak dimurka Allah...aku sayang dia..tapi aku sayang Allah lagi..aku sayang iman lagi..aku tak nak gadaikan iman sebab dia...hm..biarlah sendiri hingga hujung nyawa..asalkan kita tak sepi dari kasihNya..!

ANTARA DUA KASIH
Deru ombak pecah berderai
Mengulang pantai datang dan pergi
Begitu kasih insan diibaratkan
Bagai ombak merubah pantai
Tika kasih melestarikan sayang
Semuanya indah dipandang mata
Pabila rasa benci terbit di hati
Rasa kasih dan sayang pun menyisih
Tanda kasih yang abadi
Dalam senang jua dalam kesempitan
Kasih Ilahi tiada bersempadan
Tak memilih siapa tidak berakhir
Kekal selamanya
Di antara dua kasih
Di maqamnya yang berbeza
Mudah dijumpa namun sukar untuk diperlihara
Lahir dari ketulusan jiwa bersuluhkan iman
Namun nafsu menodainya
Terkadang kasih kita sesama insan
Bisa mengundang keredhan Tuhan
jika insan menghargainya
Dan memuliakannya
Kasih sayang Allah kekal selamanya
Kasih manusia hanya sementara
Deru ombak pecah berderai
Mengulang pantai datang dan pergi
Begitu kasih insan diibaratkan
Bagai ombak merubah pantai

Thursday, January 1, 2009

umar Al-khattab

Umar bin al-Khattab r.a. pada hari beliau ke Syam dalam keadaan dan pakaian yang serba sederhana. Beliau ditegur oleh pimpinan tentera kerana bimbang keadaan beliau itu menjejas identiti beliau di hadapan tentera. Beliau menjawab dengan ucapan yang sangat bermakna: “Kita dahulunya adalah kaum yang hina, Allah telah memuliakan kita dengan Islam, andainya kita mencari kemuliaan selain dari apa yang telah Allah muliakan kita dengannya maka kita akan dihina oleh Allah”. Riwayat ini sanadnya dikatakan sahih oleh al-Hakim dan disokong oleh al-Zahabi (Al-Hakim, al-Mustadrak, 1/237).

thiqah

dulu pernah aku kena tegur kat muslimin sbb tak jaga thiqah..aduh..dia tegur aku dlm meeting..semua org ade..hm..klu aku kata aku x rasa ape2..x logik kan?ye le..malu sangat...pastu aku boikot semua muslimin...xmau bekerjasama...xnak cakap ngan muslimin...
then hari ni ade lagi muslimin tegur aku pasal thiqah lagi...peliknya aku gelak lak...xde rasa sedih pun...suka ade le...haha..suka kena tegur...
entah le...mungkin hati ni dah jauh sgt kot dr Allah sampai x rasa ape2 bila ditegur..yg jelas aku tahu.mmg aku salah..aduh..matikah hatiku?..huhu..sedih le pulak...
banyaknye aku wat dosa..dah berkarat hati ini...Tuhan,kasihanilah hambaMu ini...

Rintihan Hamba
Di bibir kami tak pernah terlafaz nama-Mu Ilahi
Hanya terukir kata nista berwangian dosa
Jiwa kami parah terlukaLantaran noda...
Segala-galanya terukir lawa
Kerana nafsu raja
Kami sesali kejahilan diri yang selama ini
Bersarang di hati dan tergambar ngeri
Pedih seksa-Mu nanti
Hati kami dan kelamTak bercahaya...
Bagaikan malam tiada berteman
Seri sang rembulan
Wahai Tuhan bantulah kami
Lindungi kami yang tak berdaya
Di bumi-Mu ini
Kami nantikan sinar nur-Mu
Yang kami rindu dan damba selalu
Tertingkat rasa bimbang dan ragu
Untuk mengadap-Mu
Kami rayukan keampunan dan keredhaan
Dari-Mu Ilahi
Nyalakan segera obor cinta kami
Pada-Mu Ilahi
Kami syukuri atas nikmat-Mu
Yang melingkari diri kami
Lantas membangkitkan rasa kecintaan
Di hati kami
Lalu terbinalah hidup yang hakiki
Dan tenang di Firdausi